Skip to main content

PANCASILA DAN DINAMIKA IDEOLOGI - oleh ACHMAD CHARRIS ZUBAIR

 


I. Refleksi : 

Sejak 2001 ada design penghilangan PANCASILA dalam system pendidikan Indonesia, dengan terbitnya  UU No. 20 th 2003 tentang system pendidikan Nasional, yang adalah MENGHILANGKAN PENDIDIKAN PANCASILA dari KURIKULUM Sekolah dan Pendidikan Tinggi. 

Konsekwensi logis : menghilang perlahan nilai PANCASILA : Gotong Royong, Musyawarah, kerukunan dan TOLERANSI BERAGAMA. 

.

Diagnosis banding Indonesia :

1. Bung Karno dengan konsep PANCASILA 1918 - 1946 = 27 tahun 

2. Jerman Hitler dengan konsep NATIONAL SOZIALISTISCHE  1921 - 1933 = 12 th

3. Soviet Rusia LENIN MARXISTISCHE HISTORISCH MATIRIALISTISCHE 1895 -  1917 = 22 th

4. Tiongkok Dr Sun Yat Sen THE THREE PEOPLE'S PRINCIPLES San Min Chu I (Mintsu, Minchuan, Mi Sheng -  Nasionalisme Demokrasi Sosialisme) 1885 - 1912 = 27 th

Sumber : Nana Je dari Materi FGD Raperda Pendidikan Ideologi Pancasila 


II. VIDEO CLIP PERSEMBAHAN ASYB CHOIR FEAT RUMAH KREATIF SULAM

Video Clip HARI ULANG TAHUN PANCASILA
1 JUNI 2021 - MALIOBORO .
Persembahan ASYB CHOIR feat RUMAH KREATIF SULAM https://youtu.be/UmDNQp8EiNM
LAGU MARS PANCASILA [ Garuda pancasila ] Cipt Sudharnoto
Aransemen Musik : Ucok Hutabarat
Aransemen Paduan Suara : Ryo Emanuel
Team Produksi :
Adik - adik Violis RKS : Dek Adara | De Ain | Dek Kenzie | Ryo Emanuel | Ucok Hutabarat | Kurniadi A.N | Yuli Miroto | Wurry Oene | Maria Rosa Delima | Iin Indra | Neni @Naina nuraini | Shaly Theedens Umbaran | Rinto Oey
.

PANCASILA DAN  DINAMIKA IDEOLOGI

oleh  ACHMAD CHARRIS ZUBAIR

Pada dinamika ilmu dan teknologi yang begitu cepat ini, era globalisme dan kosmopolitanisme, pertanyaan dan pernyataan mengenai Pancasila serta relevansinya sebagai ideologi bangsa dan ne¬gara terungkap kembali. Pernyataan dan pertanyaan itu sangat wajar, apalagi mengingat selama ini  Pancasila sering terhenti menjadi slogan dan tidak terlaksana dalam kenyataan. 

Pada zaman orde lama, Bung Karno pada masa akhir jabatannya dianggap melanggar Pancasila dan UUD 1945. Pada zaman orde baru, di bawah kepemimpinan Suharto, zaman di mana ada penataran P4, ada asas tunggal, ada upaya perluasan peran dan fungsi Pancasila tidak sekedar sebagai dasar dan ideologi bangsa tetapi juga sikap moral bangsa, penyeleweng¬an nilai-nilai Pancasila bahkan malah menjadi-jadi. Ken¬datipun dengan adanya contoh keruntuhan rezim penyele¬weng Pancasila, saya justru mendapatkan kesan betapa “sak¬tinya” Pancasila. Betapa harus kita akui bahwa Pancasila memang sebuah mahakarya para pendiri republik yang sama-sama kita cintai ini.

Ideologi itu sendiri merupakan gagasan dasar dari sebuah komunitas bangsa berdasarkan pandangan hidup dan peng¬alaman empiriknya untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang menyangkut kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Tidak dapat disangkal bahwa setiap bangsa dan negara harus memiliki dan mengembangkan sebuah ideologi. Rapuh serta tegarnya bangsa dan negara amat ditentukan oleh kekuatan sebuah ideologi dalam menghadapi tantangan dan ujiannya. 

Saya sepakat dengan pandangan Dr. Alfian almarhum bahwa sebuah ideologi harus mampu menjawab tantang¬an dan ujian dari tiga dimensi; 

- Dimensi idealitas, 

- Dimensi realitas dan 

- Dimensi fleksibilitasnya. 

Kita coba sekarang membicarakan ketiga tantangan tersebut dalam konteks Pancasila.

Dari dimensi idealitas mengandung nilai universal yang ber¬makna dapat diterima dan sesungguhnya kalau “mau” dapat diterapkan di belahan bumi manapun, dalam kurun waktu kapan pun dan oleh siapa pun bangsa di dunia ini. 

Ada tiga nilai universal yang bersifat umum yakni 

- Nilai ketuhanan, 

- Nilai kemanusiaan dan 

- Nilai keadilan. 

Ketiganya berangkat dari potensi kodrati manusia yang bersifat umum. Nilai ketuhanan berangkat dari potensi kedudukan kodrati manusia sebagai makhluk yang “dependen” yakni yang tidak dapat ditolak takdir dan ketentuannya seperti asal ras, jenis kelamin, atau dalam batas-batas tertentu tingkat kecerdasan, rentang waktu hidupnya, lahir dan mati pada masa tertentu. Tetapi di pihak lain manusia juga merupakan makhluk yang bersifat “otonom”, yang mengisyaratkan manusia bukan sekedar makhluk pasif tetapi makhluk aktif bahkan kreatif. Dalam otonomi juga tersirat adanya kesadaran dan tanggung jawab, segala keputusan tindakan manusia seharusnya dilakukan dengan kesadaran. Maknanya manusia adalah makhluk yang bertransendensi, ia bukan makhluk antara binatang dengan malaikat, sebab keduanya bukan makhluk kreatif, tetapi manusia adalah makhluk antara makhluk tingkat rendah dengan Khalik yang maha kreatif. Oleh karena itu nilai ketuhanan menjadi nilai yang manusiawi, sedangkan ateisme merupakan pelanggaran potensi kodrat itu sendiri.

Nilai kemanusiaan bertolak dari susunan kodrat manusia sebagai makhluk jasmani sekaligus ruhani. Sebagai makhluk jasmani manusia memerlukan pemenuhan kebutuhan jasmani, seperti rasa lapar memerlukan makan, rasa dahaga memerlukan minum, dan kebutuhan jasmani lain seperti pemenuhan hasrat seksual. Di sisi lain bagi manusia beradab makan, minum, hubungan seksual bukan sekedar pemenuhan kebutuhan jasmani semata-mata melainkan harus melibatkan ruhani, kita tidak sembarang memakan yang bukan hak kita, kita tidak berhubungan seksual dengan orang yang tidak kita kenal dan kita sayangi. Ada kebutuhan seperti perhatian, cinta, berbagi rasa duka dan suka, yang itu bukan jasmani. 

Manusia akan menjadi rendah martabatnya apabila ia berkutat pada pemenuhan kebutuhan jasmani, sehingga melupakan bagian ruhani. Nilai kemanusiaan akan menjadi bermartabat dan beradab manakala manusia menjadi makhluk yang meruhani, bukan berarti ia meninggalkan kebutuhan jasmaninya, melainkan ia mengangkat kebutuhan jasmani itu ke tingkat ru¬hani, mendapatkan legitimasi ruhaniah atas pemenuhan ke¬butuhan jasmaninya.

Nilai keadilan bermula dari potensi sifat kodrat manusia se¬bagai makhluk individu sekaligus makhluk sosial. Sebagai makhluk individu, manusia memiliki hak sedangkan sebagai makhluk sosial, manusia menanggung kewajiban. “Keseimbangan” antara hak dan kewajiban merupakan dasar tegaknya keadilan. Manusia tidak bisa hanya menuntut hak tanpa melaksanakan kewajiban, sebaliknya kita tidak boleh melakukan kewajiban tanpa memahami hak kita, atau kita menuntut kewajiban orang lain dan merampas haknya. Potensi kodrati manusia di atas masing-masing berwajah dua, tidak bersifat paradoksal apalagi konflik, melainkan komplementer yang bersifat transenden, meruhani dan meluas. Sehingga tidak bersifat ekstrim dengan kecenderungan salah satunya menjadi tidak manusiawi. 

Pancasila semakin kuat dengan dua tambahan nilai yang sekalipun masih bersifat universal namun lebih mengkhusus dalam menata kehidupan berbangsa dan bernegara yakni nilai nasionalisme dan nilai kerakyatan yang meletakkan kedaulat¬an di tangan rakyat. Dengan demikian dari sudut tantangan ujian dimensi idealitas, Pancasila memenuhi syarat sebagai sebuah ideologi tangguh. 

Pengalaman dari kehidupan berbangsa dan bernegara di manapun, bangsa dan negara yang mengorbankan salah satu saja dari nilai-nilai tersebut, runtuh sebagai bangsa dan negara. Tetapi kalau kita hanya melihat kelebihan Pancasila hanya dari dimensi idealitas semata-mata, yang nota bene tidak ada keberatannya dan sudah teruji, maka kita akan terjebak pada meletakkan Pancasila sebagai “hal” yang tidak aktual bahkan sekedar slogan yang akan menjadi sangat berbahaya kalau hanya dijadikan alat legitimatif bagi penguasa yang cenderung menindas.

Persoalan kita sekarang adalah sejauhmana Pancasila mampu menjawab tantangan dan ujian dimensi realitas. Realitas yang paling menonjol di Indonesia, sebenarnya adalah kemajemukan bangsa Indonesia itu sendiri. Faktor penentunya adalah kenyataan Indonesia yang secara geografis amat luas dan terdiri dari beribu pulau besar maupun kecil, yang dihuni oleh berbagai ras maupun suku bangsa, terdiri dari berbagai agama dan latar belakang kebudayaan. Maka persoalan serius yang muncul adalah, demi kepentingan kehidupan berbangsa bernegara, di mana keanekaragaman menjadi realitas serta bagaimana menuju persatuan dan kesatuan menjadi masalah yang harus dipecahkan. 

Diperlukan sistem norma yang mampu menjadi perangkumnya. Dalam hal ini Pancasila dalam fungsinya sebagai sistem penopang dan pengawal sub-sistem norma yang ada terbukti efektif baik terhadap keberbedaan maupun ke-satu-an Indonesia. Sebagaimana TB. Simatupang menulis:

“The five principles (Pancasila) are a wide enough umbrella for everybody. Nobody has anything againts them, people can accept them, we can all live together under them” (Soetapa 1991: 236-237).

Sebagai fenomena filosofis-ideologis, pada dasarnya Pancasila amat merangsang untuk diteliti. Salah satunya justru terletak pada efektivitas Pancasila itu sendiri dalam kemam-puannya menanggulangi setiap usaha yang “merusak” keanekaragaman Indonesia. Sebagai suatu landasan filsafati bangsa, ideologi bangsa serta dasar negara yang salah satu fungsinya mempersatukan keanekaragaman serta keberbedaan bangsa, Pancasila terbukti mampu melakukannya.

Yang selalu harus dibuktikan secara terus menerus adalah sejauh mana Pancasila mampu teruji dari dimensi fleksibilitas. Ungkapan Pancasila sebagai ideologi terbuka pada dasarnya merupakan keinginan untuk menunjukkan kemampuan Pancasila teruji dalam dimensi fleksibilitas. Perubahan pada dasarnya juga merupakan hal yang manusiawi sebagi mak-hluk kreatif. Dunia selalu mengalir, dalam bahasa filsafatnya, “Panta Rhei”. Perubahan yang terjadi pada bangsa dan negara Indonesia selama ini memang ada yang bersifat alamiah, akulturatif dan memang merupakan perubahan yang direncanakan. 

Perubahan alamiah adalah perubahan bangsa dan negara yang tumbuh dan berkembang karena sifat bangsa dan negara itu sendiri sebagai bagian alam yang harus tumbuh dan mengalami perubahan. Perubahan alamiah oleh karena itu tidak menimbulkan konflik yang berarti. 

Akulturatif karena pergaulan antar bangsa, walaupun ada pula akluturasi yang nyaris tidak seimbang karena dominasi kultur satu ter¬hadap yang lain seperti dalam globalisasi. 

Pembangunan merupakan salah satu bentuk perubahan yang direncanakan, tujuan utamanya menghapuskan kemiskinan, mengejar ketertinggalan dan modernisasi. 

Paradigma pembangunan yang keliru, seperti misalnya meletakkan faktor ekonomi sebagai tumpuan utama tanpa memperhatikan faktor perubahan sosial dan moral serta standard tunggal kemajuan dan modernisasi, justru dapat membahayakan Pancasila itu sendiri. 

Saya tidak bermaksud menghasut, tetapi kenyataan bahwa pembangunan selama ini yang “muara”nya justru pada krisis moneter dan kebangkrutan ekonomi, ukuran modern yang melulu “amerikanisasi”, utang luar negeri yang nyaris tak terbayar. Semuanya mengindikasikan adanya kesalahan paradigmatik dalam pembangunan itu sendiri. Dengan demikian nilai-nilai Pancasila telah tercabik-cabik sendiri oleh bangsa yang mengaku berpancasila. Manusia Indonesia sendiri yang telah mengkhianati Pancasila sebagai amanat paling luhur dari para pendiri republik, para pejuang yang telah berkorban darah, harta dan air mata. 

Sebagai penutup, saya selaku akademisi mengajak teman-teman untuk melakukan kegiatan penelitian yang kelak akan ditindak lanjuti dengan kegiatan pengamalan, sehingga ge¬nerasi sekarang maupun mendatang lebih mantap ber Pancasila, dalam hal-hal sebagai berikut:

(1) Mendokumentasikan karya-karya tokoh bangsa yang telah dirumuskan secara eksplisit baik tertulis mau pun lisan, secara sistematik-metodik, dan dipertanggung jawabkan secara kritis.

(2) Mendokumentasikan karya-karya sastra, kesenian, ar¬sitektur, tata lingkungan buatan, le-genda-legenda yang hidup dan berkembang dalam bahasa tulisan maupun lisan.

(3) Inventarisasi bahan berupa pemahaman masyarakat yang telah dirumuskan secara eksplisit baik tertulis maupun lisan, namun lebih merupakan slogan, pepatah, peribahasa, syair-syair lisan, daripada berupa uraian sistematik-metodik.

(4) Inventarisasi pemahaman masyarakat yang mungkin sudah terungkap secara fragmentaris, tetapi masih bersifat implisit, yaitu tersembunyi dalam gejala-gejala hidup bersama dalam masyarakat, tercermin dalam sikap dan kelakuan masyarakat.

(5) Melakukan komparasi kritis antara Pancasila dengan ideologi  yang berkembang pada bangsa dan negara lain. Atau bahkan penelitian kontekstual mengenai Pancasila baik sebagai dasar, pandangan hidup, ideologi, maupun filsafat bangsa dan negara menghadapi perubahan.

Akhirnya tujuan utama dari upaya penelitian tentang Pancasila di atas, setidak-tidaknya meliputi 4 (empat) hal:

(1) Mengeksplisitasikan dan merumuskan secara jelas konsepsi-konsepsi dasar, pandangan-pandangan dasar masyarakat dan bangsa Indonesia.

(2) Mensistematisasikan semua unsur yang membentuk pandangan dasar tersebut, dengan demikian terben¬tuk suatu struktur dan keterarahan yang menyeluruh mengenai filsafat (bangsa) Indonesia.

(3) Melihat sejauhmana konsistensi logis dalam pandang¬an dasar tersebut sebagai daya praktis untuk kebudayaan Indonesia dalam arti menyeluruh dan luas. Apakah terjadi keterputusan sub-sistem atau ti¬dak selama ini. Utamanya yang tercermin dalam si-kap, tingkah laku, keputusan tindakan, serta hasil tindakan masyarakat atau bangsa Indonesia.

(4) Melihat sejauhmana Pancasila baik sebagai dasar, ideologi, pandangan hidup, filsafat bangsa dan negara Indonesia teruji dari dimensi idealitas, realitas, maupun fleksibilitas.

Terakhir, tentu saja pelaksanaan Pancasila secara murni dan konsekuen, sebuah ungkapan yang seringkali “membosankan”, hanya bisa didukung oleh pemahaman dan pengamalan agama serta sikap keteladanan terutama dari para pemimpin bangsa itu sendiri.


Popular posts from this blog

Pergantian dan Pelantikan Pengurus dan Narahubung ASYB - Periode 3 tahun pertama 2019 - 2022 masa Tugas 2021 - 2022

. Pergantian dan Pelantikan PENGURUS dan NARAHUBUNG  ASYB Alumni SMA Yogyakarta Bersatu  Periode Tiga Tahun Pertama 2019 – 2022  Untuk masa Tugas  September  2021 -  2022 . . . Pergantian dan Pelantikan Pengurus dan Narahubung [ Koordinator Alumni perwakilan SMA sederajat DIY berjalan lancar. Karena saat ini DIY masih PPKM Level 3 maka, Pelantikan yang sudah ditunda karena pandemi ini akhirnya dilakukan secara Offline dan Daring dari kediaman sebagian besar pengurus dan Narahubung [ Koordinator ]. . Dua lokasi dipilih menjadi lokasi Offline adalah ; - Pendopo Langgar Duwur Boharen, Kotagede Yogyakarta dan  - Area Kotabaru Yogyakarta . Dua lokasi ini dipilih mengingat Yogyakarta memiliki 5 wilayah heritage / warisan budaya yaitu Kraton, Pakualaman, Malioboro, Kotagede dan Kotabaru Yogyakarta,  maka wilayah  " dua KOTA " di Yogyakarta ini sangat relevan untuk kami pilih menjadi lokasi acara. Khusus untuk Lokasi Pendopo Langgar Duwur Boharen, selain juga merupakan salah satu

Sejarah Perayaan IMLEK - Indonesia

  Sejarah Perayaan IMLEK - Indonesia  . Ada yang tak biasa di Kota Semarang pada malam 23 Januari 2001. Itu adalah malam tahun baru Imlek dan kelenteng-kelenteng di seantero kota pelabuhan tersebut terlihat sibuk. Sebutlah Kelenteng Tay Kek Sie, Kelenteng Tong Pek Bio, Kelenteng Ling Hok Bio, Kelenteng Kuik Lak Hua dan Kelenteng Sio Hok Bio dipenuhi warga yang sembahyang . Anak-anak begitu girang beroleh hadiah pernak-pernik imlek dari orang tua mereka. Di bagian kota yang lain, di Pecinan Pasar Gang Baru, suasana tak kalah meriah. Mulai dari pedagang buah hingga kue keranjang laris manis. . Soeharto Melarang Sejenak menilik sejarah, perayaan tahun baru Imlek mulai senyap sejak Soeharto mengambil alih kuasa sejak 1966. Seturut catatan Tomy Su dalam “Pasang Surut Tahun Baru Imlek” yang terbit di Kompas (8/2/2005), ada 21 beleid beraroma rasis terhadap etnis Cina terbit tak lama setelah Soeharto mendapat Supersemar. Di antaranya adalah kebijakan menutup sekolah-sekolah berbahasa penganta

Himbauan Taktis dan Pernyataan Sikap ASYB - Menghadapi Aksi Mengeluarkan Pendapat Di Muka Umum Di Yogyakarta 20 sd 28 Oktober 2020

Yogyakarta, 19 Oktober 2020 Bapak /  Ibu /  kawan – kawan ASYB yang baik, ditempat Hal : Himbauan Taktis dan Pernyataan Sikap ASYB -  Menghadapi Aksi Mengeluarkan Pendapat Di Muka Umum  Di Yogyakarta Salam,  Himbauan  taktis untuk Warga ASYB Alumni SMA Yogyakarta Bersatu, menghadapi Aksi ( mengeluarkan pendapat dimuka umum )  di Yogyakarta  1. Tidak perlu panik,  JOGJA SIAGA dari Aksi  20 s.d 28 Oktober 2020 2. Media Sosial  pergunakan hashtag #JogjaAdemAyem  3. Patuhi Protokol Kesehatan, MASKER, JAGA JARAK, CUCI TANGAN PAKAI SABUN,  HINDARI KERUMUNAN 4. Catatlah nomor penting  Jaringan Aparat Keamanan ( POLRI dan TNI )  sekitar anda *Terlampir untuk dikembangkan  5. Selalu siaga dan waspada. Lakukan pengamanan tertutup  berkelompok di kawasan sekitar kediaman masing - masing terutama pada jalur – jalur lokasi aksi.  6. Terus saling bertukar perkembangan situasi, saring berita HOAX,  pantau Aksi melalui jaringan terpercaya  masing – masing,  dan CCTV : https://cctv.jogjakota.go.id/ 7.