Skip to main content

Hari Kartini 21 Aprl 2021 - Sejarah Lagu Ibu Kita Kartini

 .


Hari Kartini 21 April  bisa diperingati dengan menyanyikan dan mengenang lagu "Ibu Kita Kartini". Lagu ini diciptakan oleh W.R. Supratman, yang disebut sebagai Guru Bangsa Indonesia dalam buku yang ditulis Lilis Nihwan untuk Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ( Kemendikbud ). 

Siapa W.R. Supratman pencipta lagu "Ibu Kita Kartini"? 
W.R. Supratman lebih dikenal masyarakat Indonesia sebagai tokoh yang mahir menciptakan lagu-lagu kebangsaan. Namun, dia sebenarnya juga seorang penulis buku dengan novelnya yang menggugah perjuangan. Selain itu, dia juga telah banyak menghabiskan waktunya untuk bekerja di media massa atau menjadi wartawan. 

Banyak lagu Kebangsaan Indonesia yang diciptakan W.R. Supratman sebagai perjuangan untuk Kemerdekaan Indonesia atau sebagai ungkapan rasa hormat kepada para pahlawan Indonesia. Pencipta lagu "Ibu Kita Kartini" ini juga merupakan maestro di balik lagu kebangsaaan "Indonesia Raya" dalam tiga stanza. Lagu ini menunjukkan tingkat kecerdasan atau kehebatan W.R. Supratman dalam menawarkan nilai-nilai kebangsaan. Banyak muatan pesan yang ingin dikenalkan W.R. Supratman tentang nasionalisme Indonesia dari segi sosial, politik, budaya, pertahanan, dan keamanan. 

Lagu Indonesia Raya memiliki kekayaan intelektual yang sangat istimewa, baik untuk generasi Indonesia yang sezaman dengan W.R. Supratman maupun di masa depan. W.R. Supratman lahir di Purworejo 19 Maret 1903 dan wafat di Surabaya 17 Agustus 1938. Ia pernah bekerja sebagai guru di Makassar kemudian wartawan di koran Pemberita Makassar, Pelita Rakyat ( Makassar ), Kaum Muda, Kaum Kita (Bandung) dan Sin Po (Jakarta). 

Ia merupakan pencipta lagu "Indonesia Raya" dan sejumlah lagu kebangsaan lainnya. W.R. Supratman juga menulis novel Perawan Desa, Darah Muda dan Kaum Fanatik. Ia juga pencipta Kartu Permainan yang berisi gambar hewan-hewan yang hidup di Indonesia. 

Berikut ini lirik lagi dan chord "Ibu Kita Kartini" ciptaan W.R Supratman: 

Berikut ini lirik 
Ibu kita Kartini
Pendekar bangsa
Pendekar kaumnya
Untuk merdeka
Wahai ibu kita Kartini
Putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya
Bagi Indonesia
Ibu kita Kartini
Putri jauhari
Putri yang berjasa
Se Indonesia
Ibu kita Kartini
Putri yang suci
Putri yang merdeka
Cita-citanya
Wahai ibu kita Kartini
Putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya
Bagi Indonesia
Ibu kita Kartini
Pendekar bangsa
Pendeka kaum ibu
Se-Indonesia
Ibu kita Kartini
Penyuluh budi
Penyuluh bangsanya
Karena cintanya
Wahai ibu kita Kartini
Putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya
Bagi Indonesia


Lagu "Ibu Kita Kartini" diciptakan W.R. Supratman yang terinspirasi saat meliput Kongres Wanita Indonesia I yang berlangsung di Yogyakarta pada tanggal 22-25 Desember 1928. "Ibu Kita Kartini" merupakan gambaran kebanggaan W.R. Supratman kepada tokoh wanita, yakni R.A. Kartini yang dinilai memikirkan kaum wanita dan bangsa Indonesia.

Baca selengkapnya di artikel "Lirik Lagu Ibu Kita Kartini, Siapa Pencipta & Bagaimana Sejarahnya?", https://tirto.id/gddN


Popular posts from this blog

Pergantian dan Pelantikan Pengurus dan Narahubung ASYB - Periode 3 tahun pertama 2019 - 2022 masa Tugas 2021 - 2022

. Pergantian dan Pelantikan PENGURUS dan NARAHUBUNG  ASYB Alumni SMA Yogyakarta Bersatu  Periode Tiga Tahun Pertama 2019 – 2022  Untuk masa Tugas  September  2021 -  2022 . . . Pergantian dan Pelantikan Pengurus dan Narahubung [ Koordinator Alumni perwakilan SMA sederajat DIY berjalan lancar. Karena saat ini DIY masih PPKM Level 3 maka, Pelantikan yang sudah ditunda karena pandemi ini akhirnya dilakukan secara Offline dan Daring dari kediaman sebagian besar pengurus dan Narahubung [ Koordinator ]. . Dua lokasi dipilih menjadi lokasi Offline adalah ; - Pendopo Langgar Duwur Boharen, Kotagede Yogyakarta dan  - Area Kotabaru Yogyakarta . Dua lokasi ini dipilih mengingat Yogyakarta memiliki 5 wilayah heritage / warisan budaya yaitu Kraton, Pakualaman, Malioboro, Kotagede dan Kotabaru Yogyakarta,  maka wilayah  " dua KOTA " di Yogyakarta ini sangat relevan untuk kami pilih menjadi lokasi acara. Khusus untuk Lokasi Pendopo Langgar Duwur Boharen, selain juga merupakan salah satu

OMAH ROPINGEN KAMPUNG PANDEYAN KOTAGEDE: TITIK KECIL UNTUK MEMAHAMI PARADOKSALITAS SOSIOLOGI POLITIK INDONESIA. #achmadcharriszubair

  Foto: republika.co.id Untuk mengingatkan peristiwa 30 September 1965 yang melibatkan PKI dan membawa tragedi kemanusiaan di negeri kita. Saya reposting status saya dua tahun yang lalu.  Hanya mencoba melihat sisi lain dari peristiwa yang tidak ingin terulang lagi. Bagi yang mengenal secara dekat Tan Malaka dan atau Aidit, tahu bahwa keduanya berasal dari keluarga muslim yang taat. Bahkan DN Aidit yang sempat memimpin PKI partai dengan stigma atheispun, ada yg menyaksikan masih melakukan sholat lima waktu.  Dimasa remajanya, Aidit yang berasal dari keluarga Muhammadiyah adalah muadzin yang merdu di Masjid kampungnya Belitong. Tan Malaka bagaimanapun juga  santri dari ranah Minangkabau. Bahkan Moeso merupakan anak Kyai dari Jawa Timur. Di Kotagede, bekas ibukota Kerajaan Jawa Islam Mataram, terdapat rumah yang menyimpan catatan sejarah, yang menjadi titik awal, hiruk pikuk konflik ideologis, bahkan titik awal konflik berdarah dan menyisakan kepedihan bagi yang terlibat. Banyak kisah ki

Sejarah Perayaan IMLEK - Indonesia

  Sejarah Perayaan IMLEK - Indonesia  . Ada yang tak biasa di Kota Semarang pada malam 23 Januari 2001. Itu adalah malam tahun baru Imlek dan kelenteng-kelenteng di seantero kota pelabuhan tersebut terlihat sibuk. Sebutlah Kelenteng Tay Kek Sie, Kelenteng Tong Pek Bio, Kelenteng Ling Hok Bio, Kelenteng Kuik Lak Hua dan Kelenteng Sio Hok Bio dipenuhi warga yang sembahyang . Anak-anak begitu girang beroleh hadiah pernak-pernik imlek dari orang tua mereka. Di bagian kota yang lain, di Pecinan Pasar Gang Baru, suasana tak kalah meriah. Mulai dari pedagang buah hingga kue keranjang laris manis. . Soeharto Melarang Sejenak menilik sejarah, perayaan tahun baru Imlek mulai senyap sejak Soeharto mengambil alih kuasa sejak 1966. Seturut catatan Tomy Su dalam “Pasang Surut Tahun Baru Imlek” yang terbit di Kompas (8/2/2005), ada 21 beleid beraroma rasis terhadap etnis Cina terbit tak lama setelah Soeharto mendapat Supersemar. Di antaranya adalah kebijakan menutup sekolah-sekolah berbahasa penganta