Skip to main content

Sejarah Perayaan IMLEK - Indonesia

 


Sejarah Perayaan IMLEK - Indonesia 
.
Ada yang tak biasa di Kota Semarang pada malam 23 Januari 2001. Itu adalah malam tahun baru Imlek dan kelenteng-kelenteng di seantero kota pelabuhan tersebut terlihat sibuk. Sebutlah Kelenteng Tay Kek Sie, Kelenteng Tong Pek Bio, Kelenteng Ling Hok Bio, Kelenteng Kuik Lak Hua dan Kelenteng Sio Hok Bio dipenuhi warga yang sembahyang
.
Anak-anak begitu girang beroleh hadiah pernak-pernik imlek dari orang tua mereka. Di bagian kota yang lain, di Pecinan Pasar Gang Baru, suasana tak kalah meriah. Mulai dari pedagang buah hingga kue keranjang laris manis.
.
Soeharto Melarang Sejenak menilik sejarah, perayaan tahun baru Imlek mulai senyap sejak Soeharto mengambil alih kuasa sejak 1966. Seturut catatan Tomy Su dalam “Pasang Surut Tahun Baru Imlek” yang terbit di Kompas (8/2/2005), ada 21 beleid beraroma rasis terhadap etnis Cina terbit tak lama setelah Soeharto mendapat Supersemar. Di antaranya adalah kebijakan menutup sekolah-sekolah berbahasa pengantar Cina. Puncak rasisme rezim Si Jenderal yang Tersenyum adalah terbitnya Inpres No. 14/1967 tentang larangan agama, kepercayaan, dan adat istiadat Cina. Sejak itu, perayaan Imlek haram diramaikan di depan publik. Seni liongsamsi setali tiga uang. Pelarangan juga menyangkut pemakaian aksara Cina. Lagu-lagu berbahasa Mandarin pun lenyap dari siaran radio. “Dengan demikian ethnic cleansing atas Tionghoa tidak hanya dalam pengertian fisik, tetapi juga pemusnahan segala hal yang berbau Tionghoa, termasuk kebudayaan dan tradisi agamanya,” tulis Tomy. Semua itu dilaksanakan dengan alasan yang terang dibuat-buat: bahwa manifestasi agama, kepercayaan, dan adat istiadat Cina yang berpusat dari negeri leluhurnya dapat menimbulkan pengaruh psikologis, mental, dan moril yang kurang wajar terhadap warga negara Indonesia. Berdasar beleid itu juga sebutan “Tionghoa” lalu berganti jadi “Cina”. Rezim berdalih bahwa semua kebijakan ini adalah demi proses asimilasi etnis yang lebih kafah. Memang, perayaan Imlek tidak sepenuhnya dilarang. Inpres menitahkan, “perayaan-perayaan pesta agama dan adat istiadat Cina dilakukan secara tidak menyolok di depan umum, melainkan dilakukan dalam lingkungan keluarga”. Persis sebagaimana pengakuan Oei Bie Ing. Tak pelak, komunitas Cina seakan-akan terpisah dari kelompok masyarakat lainnya. Agaknya juga, gara-gara beleid inilah selama bertahun-tahun kemudian tumbuh stigma komunitas Cina yang eksklusif dan enggan berbaur.
.


.
Ingat Imlek, Ingat Gus Dur Selama Orde Baru berkuasa etnis Cina tak diakui sebagai suku bangsa dan dikategorikan sebagai nonpribumi. Seturut politik kebangsaan Orde Baru, etnis Cina diharuskan mengasimilasikan diri dengan suku-suku mayoritas di tempat mukim mereka. Misalnya, jika seorang Cina tinggal di Bandung, mereka harus jadi orang Sunda. Menurut begawan antropologi James Dananjaya, kebijakan itu berdampak lebih jauh daripada sekadar pergantian nama atau agama. Perlahan orang Tionghoa benar-benar melupakan jatidirinya. “Akibat indoktrinasi yang dilakukan dengan sistematis tersebut, kebanyakan orang Tionghoa yang patuh pada politik pemerintahan Orde Baru, dengan sadar atau dengan tidak sadar, telah berusaha melupakan jati diri etnisnya sendiri, sehingga terjadilah autohypnotic amnesia,” tulis James dalam “Imlek 2000: Psikoterapi untuk Amnesia Etnis Tionghoa” yang terbit di majalah Tempo edisi 14 Februari 2000. Masa-masa suram itu akhirnya berakhir kala Reformasi bergulir pada 1998. Dalam masa baktinya yang singkat, Presiden Habibie menerbitkan Inpres No. 26/1998 yang membatalkan aturan-aturan diskriminatif terhadap komunitas Tionghoa. Inpres ini juga berisi penghentian penggunaan istilah pribumi dan nonpribumi dalam penyelenggaraan pemerintahan. Abdurrahman Wahid lah yang kemudian bertindak lebih jauh lagi. Ia muncul membela hak komunitas Cina dengan konsep kebangsaan baru yang diperkenalkannya. Dalam konsep kebangsaan Gus Dur, tak ada yang namanya pribumi dan nonpribumi. Dikotomi semacam itu adalah kesalahan dan gara-gara itu komunitas Cina dinafikan dari nasionalisme Indonesia. Bagi Gus Dur, tak ada yang namanya “keturunan masyarakat asli” di Indonesia, karena bangsa Indonesia dibentuk oleh perpaduan tiga ras, yakni Melayu, Astro-melanesia, dan Cina. Ia sendiri mengatakan dirinya adalah keturunan blasteran Cina dan Arab.
.
Untuk melepaskan diri dari belenggu rasis semacam itu, Gus Dur lantas memperkenalkan konsep kebangsaan yang nonrasial. Leo Suryadinata dalam Etnis Tionghoa dan Nasionalisme Indonesia (2010, hlm. 230) mencatat, “Gus Dur menyebut kelompok-kelompok etnis di Indonesia sebagai ‘orang’ bukan ‘suku’. Ia berbicara tentang orang Jawa (etnis Jawa), orang Maluku (etnis Maluku) dan orang Tionghoa yang kesemuanya adalah orang Indonesia. [...] Pada akhirnya ia mendesak ‘penduduk pribumi’ Indonesia untuk menyatu dengan etnis Tionghoa.” Tak hanya berteori, Gus Dur pun merealisasikan gagasannya itu ketika naik jadi presiden pada 1999. Cucu pendiri NU Kiai Hasyim Asy’ari yang sejak lama dikenal sebagai pluralis itu menganulir Inpres No. 14/1967 dengan menerbitkan Inpres No. 6/2000. Sejak itulah, komunitas Tionghoa bebas kembali menjalankan kepercayaan dan budayanya.
.
Inpres yang terbit pada 17 Januari tersebut membawa suka cita yang telah lama surut. Tahun baru Imlek tahun itu, yang jatuh pada 5 Januari, dirayakan dengan cukup megah di kompleks Museum Fatahillah Jakarta. Pada 9 April 2001, tepat hari ini 19 tahun lalu, dengan Keppres No. 9/2001, Gus Dur meresmikan Imlek sebagai hari libur fakultatif. Dengan kebijakan-kebijakan inklusif itu tak lewah jika kemudian pada 10 Maret 2004—bertepatan dengan perayaan Cap Go Meh di Klenteng Tay Kek Sie—masyarakat Tionghoa di Semarang menyematkan julukan “Bapak Tionghoa” kepada Gus Dur. “Maka setiap kali menjelang perayaan Imlek, saya selalu ingat Gus Dur. Sejak menjabat sebagai Ketua Nahdlatul Ulama, tiada henti Gus Dur membela penganut aliran kepercayaan dan pemeluk Konghucu untuk memperoleh haknya sebagai warga negara,” tulis F.X. Triyas Hadi Prihantoro dalam surat pembacanya yang ditayangkan Kompas (5/2/2008).
.
Baca selengkapnya di artikel "Sejarah Perayaan Imlek: Dilarang Soeharto, Dibebaskan Gus Dur", https://tirto.id/dfR7

Popular posts from this blog

ANCAMAN RADIKALISME DI TENGAH PANDEMI | webinar via zoom [ FULLY BOOKED ]

Jika anda merasa sudah mendaftar Silakan cek  Nama Pendaftar melalui google form yang masuk https://www.alumnismayogyakartabersatu.com/2020/06/pendaftar-webinar-ancaman-radikalisme.html . . . ANCAMAN  RADIKALISME  DI TENGAH PANDEMI webinar via zoom FULLY BOOKED  Jika anda merasa sudah mendaftar Silakan cek  Nama Pendaftar melalui google form yang masuk https://www.alumnismayogyakartabersatu.com/2020/06/pendaftar-webinar-ancaman-radikalisme.html . . . FORUM SELAMATKAN NKRI [ FORSA NKRI ] DIY bekerja sama dengan   Pusat Studi Pancasila UPN "Veteran"  Yogyakarta akan menyelenggarakan webinar  via ZOOM . FORUM SELAMATKAN NKRI [ FORSA NKRI ] DIY  adalah simpul jaringan Organisasi Masa Nasionalis Moderat terdiri dari 8 ormas di DIY . ASYB Alumni SMA Yogyakarta Bersatu DPD PIKI FOREDER FORKOM Masyarakat Madani DIY  GEMAYOMI GK Center PAIDJO REDJO MULIA . Bulan  February 2020 lalu kami secara

Pendaftar Webinar Peserta [ NON waiting List ] - ANCAMAN RADIKALISME DI TENGAH PANDEMI -

. . Pendaftaran Webinar  ANCAMAN  RADIKALISME  DI TENGAH PANDEMI  26 Juni 2020  PENUH dan DITUTUP Nama Pendaftar dan Alamat Email tidak ditampilkan penuh untuk memenuhi unsur kerahasiaan data .  Segera akan kami umumkan dan hubungi peserta melalui Email  sekretariatforsankridiy@gmail.com Untuk informasi ketentuan WEBINAR dan hal terkait lain untuk dapat dipersiapkan para peserta . Narahubung WA Text Only :  Koen 0812 2983 5868 Email : sekretariatforsankridiy@gmail.com Website : www.alumnismayogyakartabersatu.com Cek dan Pantau Website ini H-2 Acara kemungkinan akan ada pengumuman pembukaan waiting list . . . . DAFTAR PESERTA  CLICK GAMBAR UNTUK MEMPEBESAR . .

RUN DOWN ACARA WEBINAR 26 JUNI 2020 | PEMBUKAAN WAITING LIST

RUN DOWN ACARA WEBINAR dan PEMBUKAAN WAITING LIST Gabung dan Daftar webinar melalui Zoom sebagai PESERTA WAITING LIST Cek Website : www.alumnismayogyakartabersatu.com . Peserta kuota 500 sudah tercapai sejak 11 Juni 2020 dan pendaftaran Peserta LOT Pendaftaran Utama sudah ditutup, Sesuai permintaan Bapak / ibu dari berbagai elemen dan organ,maka Panitia membuka peserta waiting list 23 s.d 25 Juni 2020. . Silakan daftarkan sebagai peserta waiting List dengan mengisi Google Form :  https://docs.google.com/forms/d/e/1FAIpQLSfGoeBVz35s0gJAMwlyg76zoMWj9Xqf0LUljH4_ObUaE4RNrA/viewform . Setelah mendaftar sesuai kuota, maka  pada 25 s.d 26 Juni sebelum  acara Panitia akan dikirimkan response tertulis berupa  : Link Zoom . Bagi Bapak ibu yang tidak mendapatkan slot waiting list nantinya, masih dapat mengikuti rangkaian webinar melalui : . Youtube Live ASYB id :  https://www.youtube.com/channel/UCnMr8ung8TrM_4O3zYjyADw Facebook Fanspage ASYB :  https://web.facebook.co